Profil Pengajar

Andi S. Rasak, B.Eng, M.A.


Andi S. Rasak, B.Eng, M.A. mulai menekuni bidang pendidikan sejak lulus SMA pada tahun 2003. Dengan modal pengetahuan yang pas-pasan dan semangat yang meluap-luap, ia pada waktu itu dengan semangat memberi kursus privat kepada anak-anak SMA.

Andi S. Rasak menyelesaikan studi S1-nya di bidang teknik elektro di Nanyang Technological University di Singapura, dengan penghargaan Second Class Honour (Upper Division). Namun ketertarikannya pada dunia pendidikan semakin mendalam melalui pelayanannya sebagai pembimbing remaja di Gereja Reformed Injili Indonesia di Singapura tahun 2005-2010. Pelayanannya sebagai pembimbing remaja memperlengkapinya dengan berbagai insights berkenaan dengan psikologi remaja.

Andi S. Rasak kemudian bekerja selama 2 tahun di industri elektronika di Panasonic Semiconductor Asia. Pengalamannya bekerja di industri memberinya insights mengenai berbagai hard skills dan soft skills yang esensial diperlukan di dunia kerja, namun seringkali tidak diperhatikan dalam pendidikan dasar.

Andi S. Rasak akhirnya mendapatkan kesempatan untuk secara formal melayani di bidang pendidikan pada tahun 2010. Ia bekerja di Anglo-Chinese School International di Jakarta, kemudian di Cahaya Bangsa Classical School di Bandung. Ia bahkan berkesempatan untuk belajar dan melayani sebagai wakil kepala sekolah yang bertanggung jawab atas kurikulum SMP-SMA.

Kerinduannya untuk mempelajari bidang pendidikan secara formal terpenuhi pada saat ia mendapatkan beasiswa Riady Scholars Fund untuk mempelajari bidang Philosophy and Education di Teachers College Columbia University di New York, Amerika Serikat. Thesis Magisternya adalah mengenai aplikasi filsafat relasional Martin Buber dalam bidang pendidikan.

Dengan berbekal keluasan pengalaman studi dan kerjanya, Andi S. Rasak rindu untuk membagikan ilmu dan passion-nya dalam bidang Matematika, Fisika, bahasa Yunani, bahasa Latin, Logika, maupun Filsafat, demi memperjuangkan pembaruan pendidikan di Indonesia melalui pendidikan klasik.


Jasiaman Christian Damanik, S.T.


Jasiaman C. H. Damanik dilahirkan di Pematangsiantar 37 tahun silam. Ia lulus dari program studi Teknik Material Institut Teknologi Bandung pada tahun 2005 dan kemudian memutuskan untuk mendedikasikan kehidupannya pada dunia pendidikan. Berbagai konten kebudayaan, mulai dari musik, literatur, filsafat, dan sejarah, menjadi hal-hal yang ia digeluti dengan serius secara otodidak, dengan mengacu pada konsep “schole” dalam konteks peradaban Yunani klasik. Ia pun aktif menghadiri acara-acara kebudayaan yang diselenggarakan oleh beberapa komunitas diskusi (komunitas filsafat, film, dan musik) di Bandung dengan keyakinan bahwa melek-budaya (cultural literacy), terutama budaya adiluhung atau klasik–baik yang dari Barat atau Timur–yang reliabilitasnya tak lekang oleh zaman, sudah semestinya didiseminasikan ke setiap insan untuk membuatnya menjadi manusia yang utuh seturut dengan yang dimaksudkan oleh Sang Pencipta. Musik, ilmu alam, matematika, bahasa Inggris, bahasa Latin, agama, sejarah, sosiologi, dan geografi sosial adalah berbagai matapelajaran yang pernah ia ampu baik secara formal maupun informal. Saat ini ia aktif sebagai pengajar logika di Cahaya Bangsa Classical School dan juga menjabat sebagai koordinator untuk subdepartemen Humanities & Social Sciences di departemen School of Rhetoric di sekolah yang sama. Di samping itu, ia juga secara informal aktif mengasuh Agora Humanitatis–sebuah komunitas diskusi bagi para guru dan staff di sekolah yang sama dengan tujuan untuk meningkatkan atau merawat minat baca dan melek-budaya di kalangan mereka. Waktu luangnya masih diisi juga dengan bermain dan mengapresiasi musik, terutama jazz. Saat ini ia tinggal di Bandung bersama isterinya Yeanny dan putranya Feodor.


Christin Widjaja, S.Si, M.Si


Christin Widjaja adalah seorang pendidik yang berdedikasi dan berpengalaman dalam bidang pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, terutama bidang Fisika. Baginya, science education bukanlah semata-mata mengenai bagaimana mengenal alam ciptaan Sang Khalik, tetapi terutama adalah pembentukan kebiasaan dan disiplin anak didik, yakni kebiasaan hati untuk takjub dan curious akan berbagai fenomena alam, kebiasaan mengamati lingkungan alam secara cermat, kebiasaan berhipotesa secara intelektual, dan kedisiplinan bernalar dengan benar.

Berbekal pengalaman belajar di Institut Teknologi Bandung yang dianugerahi gelar Sarjana maupun Magister Sains dalam bidang Fisika dan Biofisika, sekaligus pengalaman mengajar belasan tahun di universitas, sekolah, dan berbagai kesempatan pelatihan guru, Christin Widjaja sangat rindu untuk terus belajar dan berkarya bagi perkembangan science education di Indonesia. Kepuasannya yang terdalam adalah melihat mata anak-anak yang berbinar-binar karena takjub akan bijaksana ilahi yang nyata dalam keteraturan dan keberagaman keindahan di alam semesta.

Share this post