Apa itu Pendidikan Klasik?

Belajar dan berbudaya adalah kegiatan universal manusia, tanpa memandang bangsa, suku, atau agama. Keunikan sifat manusia sebagai makhluk yang selalu ingin berkembang membuat manusia menyadari berbagai keterbatasannya dan belajar untuk mengatasi keterbatasannya tersebut demi kehidupan kemanusiaan yang lebih baik. Hasil pembelajaran yang terekspresikan dalam berbagai jenis media komunikasi, atau yang teraplikasikan secara komunal, habitual, dan permanen di dalam masyarakat disebut kebudayaan. Di dalam perkembangan berbagai kebudayaan manusia itu terdapat fragmen-fragmen dari kebenaran, keindahan, dan kebajikan universal (truth, beauty, & goodness). Kebenaran, keindahan, dan kebajikan universal itulah yang menjadi aspirasi dari pendidikan klasik.


Keunikan pendidikan klasik dapat dilihat setidaknya dari aspek kurikulum dan aspek pedagoginya:

1. Aspek Kurikulum

Dalam aspek kurikulum, pendidikan klasik berdialog dengan berbagai ide dan kebudayaan manusia yang terunggul dalam sejarah. Kata ‘klasik’ berasal dari bahasa Latin ‘classicus,’ yang sejak pada zaman Renaisans (abad ke-15 M) diartikan sebagai hasil karya kebudayaan manusia yang terunggul dan yang bersifat otoritatif untuk dijadikan panutan.

Seiring dengan pengertian tersebut, pendidikan klasik adalah pendidikan yang menghargai fragmen-fragmen keagungan kebudayaan manusia yang sudah dianugerahkan Allah kepada kita secara universal di dalam sejarah. Tentulah tidak ada kebudayaan manusia yang tanpa cacat, namun berbagai temuan dan karya yang baik, benar, dan indah di sepanjang sejarah patutlah kita apresiasi dan kembangkan demi perkembangan kemanusiaan yang lebih baik.

Kurikulum pendidikan klasik berfokus kepada perkembangan ide-ide agung dan universal yang berpengaruh besar dalam perkembangan zaman di berbagai bidang studi, dalam kaitan dengan konteks sejarah-budaya yang melatarbelakangi pergumulan dan penggagasan ide-ide tersebut. Dengan mempelajari dinamika pergerakan kebudayaan di masa yang lampau, peserta didik akan dilatih untuk membawa perubahan sejarah di masa kini.

2. Aspek Pedagogi

Dalam aspek pedagogi, pendidikan klasik menekankan dialog interpersonal antara guru dengan peserta didik. Pendidikan klasik mengasumsikan bahwa manusia diciptakan untuk berkembang dalam relasi dialogis dengan pribadi yang lain. Sifat dialogis ini tidak meniadakan kejelasan otoritas yang dipegang oleh guru. Otoritas guru meregulasi dialog demi membimbing peserta didik ke dalam pengertian yang mengakar. Guru berinisiatif dalam mengarahkan, memberikan rangsangan berpikir, memicu rasa ingin tahu, membangkitkan gairah belajar, dan membuka jendela wawasan peserta didik, kemudian peserta didik diberikan kesempatan untuk menanggapinya dengan otentik sebagai bentuk tanggung jawab pribadinya terhadap apa yang telah diinisiasi oleh guru.

Panutan agung dalam sejarah untuk pedagogi klasik adalah dialog Sokrates dengan para muridnya. Sokrates mengajar dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang memicu pemikiran yang serius dari para muridnya dan mengarahkan murid-muridnya untuk mencapai pengertian yang seakurat mungkin.

Sifat dialogis ini menuntut guru untuk mengenal tingkat pengertian peserta didik dan dengan luwes membahasakan materi pelajaran sesuai dengan tingkat pengertian tersebut, lalu kemudian mengangkat pengertian itu ke tingkatan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, pedagogi klasik bersifat dinamis, peka terhadap tingkat pertumbuhan peserta didik.

Share this post